Posted by: chaer3 | October 19, 2010

MENDOKUMENTASIKAN BEST PRACTICE IMPLEMENTASI PROYEK SCBD OLEH PROVINSI

Pengantar 

Pemerintah provinsi seperti diamanatkan oleh Undang-Undang 32 Tahun 2004 memiliki peran yang cukup signifikan dalam mendorong akselerasi pelaksanaan desentralisasi di Indonesia. Pemerintah Provinsi dalam konteks perpanjangan tangan Pemerintah Pusat, dituntut untuk mampu melaksanakan monitoring, koordinasi, dan pembinaan terhadap Pemerintah Kabupaten/Kota di wilayahnya. Salah satu strategi yang paling popular dan relatif mudah dilaksanakan dalam melakukan pembinaan adalah dengan menampilkan contoh dari sebuah keberhasilan atau sebuah Best Practice.

Pemerintah Provinsi diharapkan akan mampu untuk menemu-kenali Best Practices yang telah dikembangkan dalam pelaksanaan Proyek SCBD oleh Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota penerima proyek di wilayahnya. Melalui proses identifikasi Best Practices ini, maka Pemerintah Provinsi memiliki kesempatan untuk memfasilitasi pertukaran pengalaman antar Pemerintah Kota/Kabupaten pelaksana Proyek SCBD.https://rkrab.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif


Pada menu SCBD Paket C2 Provinsi telah diusulkan agar Pemerintah Provinsi diberikan kesempatan untuk mengumpulkan informasi-informasi tentang berbagai penyelenggaraan proram atau proyek yang berkaitan dengan peningkatan kapasitas Pemda termasuk berbagai Best Practice yang mungkin muncul. Selanjutnya diharapkan pemerintah provinsi dapat melakukan fasilitasi ‘benchmarking’ atas kegiatan pengumpulan informasi tersebut. Untuk mendukung kegiatan pengumpulan informasi dan kegiatan ‘benchmarking’ tersebut, pada Pemerintah Provinsi diarahkan untuk dikembangkan sebuah ‘Provincial Clearing House’ sebagai pusat informasi, pusat data, dan tempat belajar bagi Pemda Kabupaten/Kota di wilayahnya. Dengan demikian, Clearing House di Provinsi bukan hanya mendokumentasikan berbagai ‘Best Practices’ implementasi Proyek SCBD, melainkan juga mendokumentasikan program atau proyek lain yang memiliki keterkaitan dengan peningkatan kapasitas pemerintah daerah dalam rangka mendukung desentralisasi.


Apa yang dimaksud dengan Best Practice Pemda?


Best Practice Pemda pada dasarnya adalah sebuah praktek inovatif yang dikembangkan oleh Pemerintah Daerah yang melibatkan banyak stakeholder untuk menyelesaikan satu atau banyak masalah aktual yang merupakan sebuah terobosan dan belum pernah dilaksanakan sebelumnya yang diprioritaskan bagi peningkatan kesejahteraan orang banyak dan yang bersifat sustainable dan transferable.


Best Practice merupakan terobosan atas pelaksanaan aktivitas harian yang dikembangkan untuk; menyelesaikan; atau mendukung penyelesaian; dan/atau mempercepat proses penyelesaian, sebuah atau beberapa masalah dengan strategis dan efisien.

 

Indikator sebuah Best Practices:

  1. Inovatif
  2. Partisipatif
  3. Sustainable
  4. Berdampak Positif
  5. Lesson Learn

Best Practices dilakukan untuk memicu pertumbuhan pembangunan, mengatasi permasalahan dengan strategis, dan mempercepat tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Best Practices didokumentasikan sebagai; bahan ajar dan perbandingan; alat ukur evaluasi; alat tukar dalam exchange program; dan promosi investasi. Best Practice dikembangkan sebagai pemicu pengembangan kreativitas aparat, alat ukur progresivitas pembangunan, dan prestice daerah.

 

Bagaimana dengan Best Practice dalam Implementasi Proyek SCBD?


Seperti munculnya Best Practice dalam kinerja harian Pemda, Best Practice pada Proyek SCBD juga harus muncul dari terbangunnya terobosan-terobosan pelaksana proyek, sehingga Best Practice dalam proyek dapat menciptakan sebuah performa proyek yang bukanlah ditentukan oleh capaian efektif dan efisien. Best Practice dalam proyek hasil seperti yang diharapkan bukanlah hanya ditentukan oleh capaian hasil muncul seperti yang dituangkan dalam Petunjuk Pelaksanaan atau seperti yang diharapkan muncul sesuai dengan apa seperti yang diarahkan untuk dapat yang dituangkan dalam Petunjuk Pelaksanaan atau dicapai sesuai dengan tujuan seperti yang diarahkan untuk dapat dicapai sesuai dengan tujuan proyek.


Sebagai ilustrasi atas konsepsi di atas adalah sebagai berikut: bahwa proyek SCBD harus “Benchmarking to determine existing levels of institutional performance and attendant capacity shortfall and program needs and help to prepare Capacity Building Action Plan”, Best Practice muncul bukan karena proyek sudah dapat melakukan benchmarking, melainkan proses dari benchmarking itu sendiri yang dikembangkan dengan menggunakan praktek-praktek terobosan.


Best Practice dalam implementasi proyek SCBD haruslah muncul dalam bentukan terobosan-terobosan yang dikembangkan oleh Project Implementation Unit (PIU) bersama dengan Service Provider (SP). Terobosan-terobosan yang dikembangkan oleh PIU bersama SP tidak boleh bertentangan dengan prinsip dasar dan aturan-aturan yang dikembangkan oleh proyek itu sendiri. Terobosan-terobosan yang dikembangkan dapat saja muncul sebagai akibat munculnya masalah tertentu dalam pelaksanaan proyek yang tidak dapat ditangani dengan menggunakan format aturan proyek yang berlaku atau tidak tersedia dalam proyek.


Karena sifat dari proyek SCBD adalah menekankan pada peningkatan kapasitas pemda, baik aparat, kinerja, maupun system suprastrukturnya, maka pengebangan Best Practice pada proyek SCBD harus memiliki dua sisi. Sisi yang pertama adalah sisi pegelolaan proyek dan sisi yang kedua adalah memberikan peningkatan kemampuan pada aparat di tingkat pusat (atau provinsi) untuk dapat mendokumentasikan Best Practice dan memfasilitasi alih pengalaman antar Pemda kabupaten/kota di wilayahnya.


Bagaimana proses Mendokumentasikan Best Practice ?


Upaya untuk menemukenali sebuah praktek atau aktifitas sebagai sebuah Best Practice harus dilakukan melalui pentahapan yang tersusun sebagai berikut:


Tahap 1.  Pengumpulan informasi dasar

Tahap 2.  Verifikasi jarak jauh atas informasi dasar

Tahap 3.  Pelaksanaan kunjungan lapangan

Tahap 4.  Penulisan dokumen

Tahap 5.  Verifikasi dan korespondensi dokumen hasil tulisan

Tahap 6.  Sosialisasi Umum dan/atau Workshop Best Practice


Responses

  1. Cukup bagus bahasannya, cuma perlu dipoles sedikit kerapihannya


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: